Tuesday, November 3, 2009

Nasib pasti berubah

Dulu, bila ada seorang artis yang tenar, saya selalu merasa, duh enaknya jadi artis, kemana-mana di lihat orang dan diajak ngobrol. Ada yang minta tanda tangan, foto bareng, dan jadi tamu terhormat di pesta-pesta. Dari duitnya apa lagi, rasanya ngga ada artis tenar yang miskin, mereka semua kaya raya, dan bisa menikmati makan enak tiap hari, dikelilingi barang-barang mewah dan bagus.

Sampai suatu saat, seantero nusantara heboh dengan tayangan infotainment yang membahas kehidupan para artis nasional dan gossip-gosip seputar kehidupannya. Ada yang kena kasus narkoba, kawin-cerai, penipuan, poligami dll. Wajah-wajah para artis yang biasanya tersenyum, biasanya cenderung cemberut dan ngga sedap dipandang, bila sudah terbongkar rahasia hidupnya. Kadang-kadang jadi kasihan juga melihat mereka jadi komoditas di televisi.

Saya akhirnya sadar, jika mereka juga manusia biasa yang punya kehidupan pribadi. Ketenaran mereka akhirnya jadi seperti senjata makan tuan. Tidak hanya kerja mereka yang jadi komoditas publik tapi juga hidup mereka . Akhirnya saya berpikir, ternyata ada resikonya juga ya jadi artis.

Walaupun demikian, dengan bergelimang harta, gosip dan perhatian publik, seorang artis tetaplah seorang artis yang punya banyak kelebihan dibanding orang biasa-biasa saja. Paling tidak, hidup cukup nyaman untuk dinikmati. Mau makan tinggal makan, mau pergi keluar negeri tinggal pergi, dan sebagainya.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan, dunia keartisan bukanlah dunia yang gampang diraih, banyak tetes air mata dan keringat yang harus di keluarkan agar bisa masuk kategori artis beken. Banyak di ibu kota kita temui, calon-calon artis dari umur belasan tahun hingga uzur yang ingin beken tetapi tidak kunjung beken.

Ada satu artis yang cukup mendapatkan perhatian saya, yaitu mbah Surip, dengan gayanya yang khas dan lirik lagu yang asyik, dalam beberapa bulan saja ketenarannya sudah tersebar dari sabang sampai merauke. Hanya saja, ketenaran yang di capainya ternyata tidak bertahan lama, beliau harus berpulang ke hadirat Tuhan sebelum hasil kerja kerasnya dapat dinikmati.

Tetapi, saya tertarik dengan mbah Surip bukan karena lagu atau ke nyentrikan beliau tetapi karena perjuangan beliau yang tidak kunjung lelah dalam berkarir sebagai seorang seniman. Saya pernah membaca, beliau sempat menyebarkan kaset-kaset rekaman suarannya di sebuah taman hiburan di Jakarta untuk berpromosi.

Yah, inilah hidup, kadang anda dibawah, kadang anda diatas. Jika boleh dibilang, kehidupan ini bak roda yang berjalan . Tidak sekalipun roda tersebut berhenti. Kadang nasib seseorang diatas, dan tidak jarang pula nasib seseorang berada di bawah.

Dari cerita tentang mbah Surip tadi, bila anda merasa nasib anda sekarang berada dibawah, teruslah berusaha, karena apa yang anda usahakan suatu saat akan menuai hasil. Karena tidak mungkin didunia ini sesuatu tidak berubah, jika kita tetap konsisten dengan apa yang kita lakukan, dan mau berkonsentrasi penuh, maka suatu ketika nasib baik akan menghampiri anda.

Bila anda merasa diatas, beristirahatlah dan nikmati yang anda miliki bersama keluarga, teman dan sejawat anda, karena bisa saja perubahan terjadi dan anda tidak sempat untuk menikmati hasil jerih payah anda.

0 comments: